
Pendahuluan: Puasa di Era Lisan Digital
Di bulan Ramadan, umat Islam dilatih menahan lapar dan haus. Namun, di era media sosial, ujian puasa tidak berhenti di perut. Ia bergeser ke jari, layar, dan kolom komentar.
Banyak orang berhasil menahan makan, tetapi gagal menahan emosi. Berhasil sahur dan berbuka tepat waktu, tetapi lalai menjaga tutur kata digital. Padahal, akhlak adalah inti puasa.
BACA JUGA: https://www.bekalbaik.com/panduan-praktis-puasa-digital-di-bulan-ramadan/
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى امْرُؤٌ صَائِمٌ
“Jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata-kata kotor, dan jangan pula bertindak bodoh. Jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya, hendaklah mengucapkan: sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)
Hadis ini tidak hanya berlaku untuk lisan nyata, tetapi juga lisan digital.
1. Konsep Lisan Digital dan Tanggung Jawab Moral
Dalam Islam, segala bentuk ucapan dan ekspresi, baik lisan, tulisan, maupun isyarat memiliki konsekuensi hukum dan moral.
Di era digital:
- Status = ucapan
- Komentar = pernyataan lisan
- Share & repost = persaksian
- Emoji reaksi = ekspresi sikap
Allah SWT berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
“Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)
Artinya, setiap kalimat yang diketik saat puasa tetap dicatat dan dipertanggungjawabkan, sebagaimana ucapan langsung.
2. Adab Berkomentar di Media Sosial Saat Puasa
Komentar adalah ujian akhlak paling nyata di bulan Ramadan.
Adab yang diajarkan Islam:
- Berkata baik atau diam
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
”Barangsiapa yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir maka hendaknya dia berbicara yang baik atau (kalau tidak bisa hendaknya) dia diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
- Menghindari emosi dan debat kusir
Puasa melatih menahan diri, bukan melampiaskan amarah lewat komentar.
- Tidak merendahkan atau mempermalukan
Merasa benar sendiri adalah penyakit hati yang mudah muncul di kolom komentar.
Prinsip praktis: Jika komentar kita tidak menambah kebaikan, ketenangan, atau ilmu, lebih baik ditahan.
BACA JUGA: https://www.bekalbaik.com/hukum-wajib-sunah-haram-makruh-dan-mubah-dalam-puasa/
3. Etika Berbagi (Share & Repost) Saat Ramadan
Banyak dosa digital terjadi bukan karena membuat konten, tetapi karena ikut menyebarkan.” Islam mengajarkan tabayyun:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang beriman, jika datang kepadamu suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Etika berbagi saat puasa:
- Pastikan kebenaran informasi
- Hindari konten provokatif
- Jangan menyebar aib, meski “viral”
- Jangan menyebar hoaks dengan niat “sekadar berbagi”
Ingat: Share adalah bentuk persaksian, dan persaksian palsu termasuk dosa besar.
4. Larangan Ghibah, Fitnah, dan Ujaran Kebencian Digital
a. Ghibah Digital
Ghibah tidak berubah hukumnya hanya karena dilakukan lewat layar. Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Contoh ghibah digital:
- Membicarakan keburukan orang di komentar
- Membuat status sindiran (nyindir)
- Membongkar aib publik figur dengan nada merendahkan
b. Fitnah dan Ujaran Kebencian
Fitnah dosanya lebih besar dari pembunuhan (QS. Al-Baqarah: 191).
Puasa bisa kehilangan maknanya jika dipenuhi:
- Tuduhan tanpa bukti
- Kalimat kasar dan merendahkan
- Konten kebencian bernuansa SARA
5. Berdiskusi di Medsos: Antara Dakwah dan Ego
Diskusi boleh, dakwah dianjurkan. Namun cara lebih penting daripada menang debat.
Allah SWT berfirman:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah) dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Tanda diskusi tidak sehat:
- Tujuan ingin menang, bukan mencari kebenaran
- Merendahkan lawan diskusi
- Mengungkit kesalahan personal
Puasa mengajarkan: Menang debat belum tentu menang di sisi Allah.
6. Contoh Kasus Nyata di Media Sosial
Beberapa contoh yang sering terjadi saat Ramadan:
- Debat keras soal perbedaan fiqh di kolom komentar
- “Nyinyir” soal menu buka puasa orang lain
- Mengomentari ibadah orang dengan nada meremehkan
- Menyebar video kesalahan orang untuk hiburan
Semua ini tidak membatalkan puasa secara fikih, tetapi sangat berisiko menghapus pahala puasa. Rasulullah ﷺ bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan haus.” (HR. Ahmad)
Penutup: Puasa Akhlak di Era Media Sosial
Menjaga akhlak digital adalah bagian dari ibadah puasa. Ramadan bukan hanya menahan makan, tetapi menahan:
- Jari dari komentar menyakitkan
- Mata dari konten maksiat
- Hati dari kebencian dan kesombongan
Jika puasa berhasil membentuk akhlak digital yang santun, jujur, dan bijak, maka itulah tanda puasa yang hidup dan bermakna.
Semoga Allah menjadikan Ramadan kita bukan hanya sah secara hukum, tetapi juga indah dalam akhlak dan berat dalam timbangan pahala. Aamiin.(*)










Add Comment