
(Ilustrasi)
Puasa Ramadan merupakan ibadah yang agung dan memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Ia tidak hanya menuntut kemampuan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengandung misi besar pembentukan akhlak dan ketakwaan. Namun, di era 5.0 yang serba cepat, terkoneksi, dan dipenuhi arus informasi, pelaksanaan puasa menghadapi tantangan baru yang tidak dikenal pada masa-masa sebelumnya.
BACA JUGA: https://www.bekalbaik.com/khutbah-jumat-keutamaan-bulan-rajab-momentum-memperbaiki-diri/
Distraksi media sosial, budaya hiburan instan, konsumerisme digital, hingga ghibah dan fitnah daring berpotensi menggerus esensi puasa. Padahal Allah SWT menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar ritual fisik, melainkan sarana transformasi spiritual dan moral.
Hakikat Puasa dalam Perspektif Hukum dan Tujuan Syariat
Secara fikih, puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat. Namun, dalam perspektif tujuan syariat (maqasid al-syari‘ah), puasa bertujuan:
- Menumbuhkan ketakwaan
- Melatih pengendalian diri
- Membersihkan jiwa dan akhlak
- Menjaga lisan, pandangan, dan perilaku
Rasulullah SAW menegaskan dimensi batin puasa:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari).
Hadits ini merupakan peringatan keras dari Rasulullah SAW bahwa puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Puasa yang sesungguhnya adalah menahan diri dari perbuatan dosa, maksiat, ghibah (gosip), perkataan kasar, dan kebohongan.
Hadis ini menjadi landasan kuat bahwa kerusakan akhlak dapat merusak nilai puasa, meskipun secara hukum fikih puasanya sah.
Tantangan Puasa Ramadan di Era 5.0
1. Distraksi Digital dan Hilangnya Fokus Ibadah
Distraksi Digital adalah gangguan yang berasal dari perangkat atau platform digital (seperti notifikasi smartphone, media sosial, game, iklan online) yang mengalihkan perhatian seseorang dari tugas utama, menurunkan konsentrasi dan produktivitas, serta berdampak pada kesehatan mental dan fisik, seperti membuat sulit fokus dan menimbulkan kecemasan.
Era digital ditandai dengan notifikasi tanpa henti, media sosial, video pendek, dan gim daring. Semua ini menyita waktu dan perhatian, sehingga waktu Ramadan yang seharusnya dipenuhi zikir dan tilawah justru habis untuk scrolling tanpa tujuan.
Padahal Rasulullah SAW bersabda: الصِّيَامُ جُنَّةٌ “Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Puasa sebagai perisai akan melemah jika perhatian dan kesadaran diri terus bocor oleh distraksi digital.
2. FOMO (Fear of Missing Out) dan Kegagalan Puasa Digital
Fear of Missing Out (FOMO) adalah perasaan cemas, takut, atau gelisah karena merasa tertinggal informasi, momen, acara, atau pengalaman menyenangkan yang dialami orang lain, seringkali dipicu oleh media sosial.
Dengan kata lain, dorongan untuk selalu mengikuti tren, konten viral, dan aktivitas daring menciptakan kegelisahan batin. Hati sulit tenang karena takut tertinggal informasi, padahal Ramadan menuntut ketenangan dan kehadiran hati.
Islam mengajarkan sikap zuhud dan qana’ah, yakni tidak menjadikan dunia, termasuk dunia digital menguasai hati.
BACA JUGA: https://www.bekalbaik.com/?s=RAMADHAN
3. Fast-tainment dan Konsumerisme Digital
Fast-tainment digital adalah(gabungan dari Fast dan Entertainment) dalam konteks digital merujuk pada konten hiburan atau informasi yang disajikan secara cepat, ringkas, dan intensif untuk konsumsi instan di era digital. Fenomena ini didorong oleh pendeknya rentang perhatian (attention span) pengguna internet dan tingginya penggunaan media sosial.
Sahur dan berbuka sering diiringi hiburan instan: video lucu, tayangan viral, dan promosi makanan berlebihan. Iklan digital menggoda konsumsi berlebihan, bertentangan dengan ruh puasa yang mendidik kesederhanaan.
Allah SWT berfirman,
وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ
“dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A‘raf: 31).
4. Rusaknya Nilai Puasa akibat Ghibah dan Fitnah Online
Ghibah, ujaran kebencian, debat kusir, dan penyebaran hoaks di media sosial menjadi tantangan serius. Lisan digital sama hukumnya dengan lisan nyata.
Rasulullah SAW bersabda,
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan haus.” (HR. Ahmad).
“كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ”
Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
5. Kelelahan Digital dan Beban Mental
Paparan informasi berlebih (information overload) menyebabkan stres dan kelelahan mental, berlawanan dengan tujuan puasa sebagai sarana menenangkan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah.
Solusi dan Peluang Puasa Ramadan di Era 5.0
Dalam perspektif keislaman,
- Teknologi sebagai wasilah (sarana), bukan tujuan
- Tetap menjaga akhlak, niat, dan ketakwaan
- Dunia digital tidak boleh menguasai hati
1. Puasa Digital sebagai Bentuk Mujahadah
Puasa digital bukan anti-teknologi, tetapi pengendalian teknologi. Membatasi waktu layar, menghindari konten negatif, dan menetapkan jam bebas gawai adalah bentuk penjagaan hati.
2. Memanfaatkan Teknologi untuk Ibadah
Teknologi dapat menjadi wasilah kebaikan:
- Aplikasi Al-Qur’an dan pengingat shalat
- Kajian daring dari sumber tepercaya
- Sedekah dan zakat melalui platform digital dengan niat ikhlas, إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Literasi Digital dan Tabayyun
Islam menekankan verifikasi informasi: (QS. Al-Hujurat: 6)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
Tabayyun digital menjadi bagian dari menjaga pahala puasa.
4. Integrasi Ibadah dan Dunia Digital
Layar tidak harus menjauhkan dari Allah. Ia bisa menjadi jendela ilmu, sarana dakwah, dan penguat iman jika digunakan secara sadar.
5. Puasa sebagai Latihan Mindfulness Spiritual
Puasa mengajarkan kesadaran penuh (muraqabah): merasa diawasi Allah dalam setiap klik, komentar, dan unggahan. Inilah inti ihsan.
Penutup
Puasa Ramadan di era 5.0 menghadapi tantangan besar, namun juga menyimpan peluang besar. Islam tidak menolak teknologi, tetapi mengajarkan kendali diri agar teknologi tidak menguasai hati.
Dengan memahami hukum puasa dan menjaga esensinya, pengendalian diri, akhlak mulia, dan ketakwaan, Ramadan tetap menjadi bulan transformasi spiritual, bukan sekadar perubahan jadwal makan di tengah hiruk-pikuk digital. Semoga puasa kita tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga bernilai tinggi di sisi Allah SWT.(*)










Add Comment