
Keluarga sakinah merupakan cita-cita setiap pasangan muslim. Di era digital saat ini, tantangan membangun keluarga tidak hanya datang dari faktor internal, tetapi juga dari pengaruh eksternal seperti media sosial, gaya hidup instan, dan derasnya arus informasi. Oleh karena itu, diperlukan fondasi yang kuat agar keluarga tetap kokoh, harmonis, dan diridhai Allah SWT.
Fondasi pertama dalam membangun keluarga sakinah adalah meluruskan niat pernikahan karena Allah SWT. Pernikahan bukan sekadar hubungan duniawi, tetapi ibadah yang bernilai akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Niat yang lurus akan menjadi arah dan kekuatan dalam menghadapi berbagai ujian rumah tangga, termasuk godaan kehidupan digital yang sering menampilkan kebahagiaan semu.
BACA JUGA: https://www.bekalbaik.com/meneladani-nabi-muhammad-saw-membangun-generasi-saleh/
Kedua, mensyukuri setiap nikmat dalam kehidupan rumah tangga. Rasa syukur menjadi kunci ketenangan dan kebahagiaan. Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ
“Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri.” (QS. Luqman: 12).
Di era digital, syukur menjadi benteng dari penyakit hati seperti iri, dengki, dan budaya membandingkan kehidupan dengan orang lain.
Ketiga, mengelola keuangan keluarga dengan bijak sebagai bentuk tanggung jawab. Islam mengajarkan keseimbangan dalam menggunakan harta. Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67).
Hal ini menjadi sangat relevan di era digital, di mana kemudahan belanja online seringkali mendorong perilaku konsumtif yang dapat memicu konflik rumah tangga.
Keempat, membangun hubungan suami istri dengan prinsip mu’asyarah bil ma’ruf (pergaulan yang baik). Allah SWT berfirman:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istri) secara patut.” (QS. An-Nisa: 19).
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” (HR. Tirmidzi).
Sikap lemah lembut, saling menghormati, dan komunikasi yang baik menjadi kunci keharmonisan, termasuk dalam menjaga etika komunikasi di media digital.
Kelima, menjaga ibadah, khususnya shalat, sebagai pondasi utama keluarga. Allah SWT berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا
“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132).
Shalat menjadi penguat spiritual yang menjaga ketenangan jiwa di tengah kesibukan dan distraksi teknologi.
Kelima, menjaga ibadah, khususnya shalat, sebagai pondasi utama keluarga. Allah SWT berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا
“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132).
Shalat menjadi penguat spiritual yang menjaga ketenangan jiwa di tengah kesibukan dan distraksi teknologi.
BACA JUGA: https://www.bekalbaik.com/ketika-waktu-bersama-keluarga-lebih-berharga-dari-lembur-tambahan/
Selain itu, pendidikan dalam keluarga juga harus menjadi prioritas. Orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam membimbing anak. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).
Di era digital, pendidikan tidak hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang membangun karakter dan akhlak agar anak mampu menyaring informasi dengan bijak.
Sebagai solusi menghadapi tantangan era digital, keluarga muslim perlu membangun kebiasaan baik seperti menjaga komunikasi yang sehat, bijak dalam bermedia sosial, memperkuat literasi digital, serta menjadikan rumah sebagai tempat yang penuh nilai keimanan dan kasih sayang.
Pada akhirnya, keluarga sakinah bukanlah keluarga yang bebas dari masalah, tetapi keluarga yang mampu mengelola ujian dengan iman, ilmu, dan akhlak. Dengan niat yang lurus, rasa syukur, pengelolaan kehidupan yang baik, serta berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah, insyaAllah keluarga akan menjadi tempat yang menenangkan (sakinah), penuh cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah), serta membawa keberkahan hingga akhirat.(*)










Add Comment