Home » #1 Catatan dari Tanah Suci 2026: Belajar Sabar, Tertib, dan Toleran di Kota Makkah
Tips Wisata

#1 Catatan dari Tanah Suci 2026: Belajar Sabar, Tertib, dan Toleran di Kota Makkah

Tampak sebagian anggota jemaah haji kloter 68 rombongan 3 regu 10 dari Kabupaten Purbalingga usai melaksanakan ibadah sholat Subuh di Masjidil Haram, Ahad (17/5/2026) (FOTO: Imam Edi Siswanto)

Oleh: Imam Edi Siswanto

Menunaikan ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan batin yang penuh pelajaran. Setiap hari di Makkah menghadirkan pengalaman baru yang terkadang melelahkan, membingungkan, namun sekaligus mengesankan dan menguatkan jiwa. Berikut beberapa catatan pengalaman yang mungkin juga dirasakan oleh banyak jamaah haji Indonesia selama berada di Makkah.

BACA JUGA: https://www.bekalbaik.com/haji-mabrur-pengertian-keutamaan-dan-tanda-tandanya-menurut-al-quran-dan-hadis-sahih/

  1. Perjuangan Menjemput Shalat Subuh

Salah satu rutinitas yang cukup menantang adalah ketika ingin menunaikan shalat Subuh di Masjidil Haram. Aktivitas sudah dimulai sejak pukul 02.00 dini hari. Alarm ponsel berbunyi, mata yang masih berat dipaksa terbuka, lalu bergegas berwudhu dan bersiap menuju lobi hotel.

Bagi jamaah yang mengandalkan bus shalawat, waktu menjadi sangat penting. Bus shalawat yang melayani rute menuju Terminal Jabal Ka’bah, khususnya bus nomor 13, berhenti beroperasi sekitar pukul 03.00 waktu Arab Saudi. Karena itu, keterlambatan beberapa menit saja bisa membuat jamaah kehilangan kesempatan menggunakan transportasi tersebut.

Di lobi hotel, jamaah sudah mulai berkumpul. Ada yang duduk sambil berdzikir, ada yang mengobrol pelan, dan ada pula yang sesekali menguap menahan kantuk. Ketika bus datang, semua bergerak dengan tertib menuju kendaraan yang akan mengantar mereka lebih dekat ke Baitullah.

Perjalanan menuju Subuh di Masjidil Haram ternyata sudah menjadi ibadah tersendiri. Ia mengajarkan kedisiplinan, pengorbanan waktu istirahat, dan kesungguhan hati dalam memenuhi panggilan Allah.

  1. Masjid yang Luas dan Jalur yang Selalu Berubah

Bagi jamaah yang baru pertama kali datang, luasnya Masjidil Haram sering kali menghadirkan rasa kagum sekaligus kebingungan.

Pintu masuk yang jumlahnya sangat banyak, area perluasan yang luas, serta arus manusia dari berbagai arah membuat seseorang mudah kehilangan orientasi. Belum lagi adanya perubahan jalur masuk dan keluar yang sering disesuaikan dengan kondisi kepadatan jamaah.

Hari ini seseorang masuk melalui satu pintu, belum tentu besok pintu yang sama dapat digunakan dengan jalur yang sama. Tidak sedikit jamaah yang harus berputar cukup jauh karena salah mengambil arah.

Pengalaman ini mengajarkan pentingnya mengenali titik-titik penanda, menghafal nomor pintu, serta tidak tergesa-gesa dalam berjalan. Ketelitian menjadi kunci agar tidak mudah tersesat di lautan manusia yang setiap waktu memenuhi Masjidil Haram.

  1. Panas Makkah dan Ujian Kesabaran

Cuaca Makkah pada musim haji tahun 2026 termasuk cukup panas. Suhu yang tinggi berpadu dengan padatnya aktivitas jamaah dari seluruh dunia menjadi ujian tersendiri.

Berjalan kaki dalam jarak yang cukup jauh, menunggu bus, mengantre lift hotel, atau berdesakan saat arus jamaah padat sering kali menguras tenaga dan emosi. Dalam kondisi seperti itu, kesabaran benar-benar diuji.

Kadang seseorang harus menunggu lebih lama dari perkiraan. Kadang harus mengalah ketika jalur penuh sesak. Bahkan tidak jarang harus menerima kenyataan bahwa rencana yang telah disusun berubah karena situasi lapangan.

Di sinilah makna haji sebagai madrasah kesabaran terasa nyata. Setiap langkah seakan mengingatkan bahwa ibadah ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan latihan mengendalikan hati dan emosi.

  1. Dingin di Dalam Masjid, Ramai di Toilet

Jika di luar masjid jamaah menghadapi suhu panas yang menyengat, suasana di dalam Masjidil Haram justru sangat berbeda. Pendingin udara yang beroperasi penuh membuat suasana di dalam masjid terasa sejuk bahkan cenderung dingin bagi sebagian jamaah.

Perubahan suhu yang cukup drastis ini ternyata menimbulkan fenomena tersendiri. Tidak sedikit jamaah yang menjadi lebih sering ingin buang air kecil. Setelah duduk cukup lama untuk berzikir, membaca Al-Qur’an, atau menunggu waktu shalat berikutnya, keinginan untuk ke toilet sering kali muncul.

Akibatnya, area toilet hampir tidak pernah sepi dari antrean jamaah. Karena itu, banyak jamaah berpengalaman yang mulai mengatur konsumsi minuman dan memperhitungkan waktu menuju toilet agar tidak mengganggu kekhusyukan ibadah.

  1. Belajar Toleransi dari Jutaan Manusia

Salah satu keindahan haji adalah perjumpaan dengan umat Islam dari berbagai penjuru dunia.

Di satu tempat, kita dapat melihat jamaah dari Asia, Afrika, Eropa, Amerika, hingga Australia. Bahasa mereka berbeda, warna kulit berbeda, budaya berbeda, bahkan cara berpakaian dan kebiasaan sehari-hari pun tidak sama.

Ada yang berjalan cepat, ada yang lambat. Ada yang terbiasa berbicara keras, ada yang sangat tenang. Ada yang membawa tradisi tertentu yang mungkin tidak biasa kita lihat.

Keberagaman ini mengajarkan bahwa umat Islam adalah keluarga besar yang dipersatukan oleh kalimat tauhid. Haji menjadi ruang belajar untuk menghormati perbedaan, mengurangi ego, dan memperbanyak toleransi.

Di Tanah Suci, seseorang tidak dinilai dari kebangsaan, jabatan, atau kekayaannya, melainkan dari ketakwaan dan akhlaknya.

  1. Kartu Nusuk: Sahabat yang Tak Boleh Terlupakan

Salah satu benda yang wajib selalu melekat pada jamaah selama berada di Makkah adalah kartu Nusuk.

Keluar hotel tanpa membawa kartu ini dapat menimbulkan berbagai kesulitan. Petugas keamanan sering melakukan pemeriksaan identitas jamaah di berbagai titik, terutama pada masa puncak penyelenggaraan haji.

Karena itu, banyak pembimbing haji selalu mengingatkan jamaah agar sebelum keluar kamar memastikan tiga hal: kartu Nusuk, telepon seluler, dan identitas hotel.

Kartu kecil ini mungkin tampak sederhana, tetapi manfaatnya sangat besar dalam membantu identifikasi dan pengaturan layanan jamaah selama berada di Tanah Suci.

  1. Bersama Rombongan: Antara Kenyamanan dan Tantangan

Beraktivitas bersama rombongan atau regu memiliki banyak keuntungan. Jamaah dapat saling mengingatkan, saling membantu, dan saling menjaga.

Ketika ada anggota yang terlambat, yang lain dapat menghubungi. Ketika ada yang kelelahan, teman satu rombongan dapat membantu. Saat harus mencari jalur tertentu, keputusan bersama sering kali lebih aman dibanding berjalan sendiri.

Namun kebersamaan juga memiliki tantangan. Kecepatan berjalan setiap orang berbeda. Ada yang ingin lebih lama beribadah di masjid, ada yang ingin segera kembali ke hotel. Kadang rombongan harus menunggu anggota yang belum lengkap sehingga perjalanan menjadi lebih lambat.

Meski demikian, kebersamaan dalam rombongan tetap menjadi salah satu sarana terbaik untuk menghindari tersesat dan menjaga keselamatan jamaah, terutama bagi mereka yang sudah lanjut usia.

Penutup

Haji di Makkah bukan hanya tentang thawaf mengelilingi Ka’bah atau melaksanakan rangkaian manasik. Di balik itu terdapat pelajaran-pelajaran berharga tentang disiplin, kesabaran, toleransi, kebersamaan, dan kepatuhan terhadap aturan.

Setiap langkah menuju Masjidil Haram, setiap antrean bus shalawat, setiap kebingungan mencari pintu keluar, hingga setiap perjumpaan dengan umat Islam dari berbagai bangsa merupakan bagian dari pendidikan ruhani yang tidak akan mudah dilupakan.

Semoga seluruh pengalaman tersebut menjadi bekal untuk pulang sebagai hamba yang lebih sabar, lebih rendah hati, dan semakin dekat kepada Allah SWT, serta memperoleh predikat haji yang mabrur. Aamiin.

About the author

IES

Add Comment

Click here to post a comment

Jadwal Sholat :


jadwal-sholat

Kalender Masehi – Hijriyah

Masehi HijriyahPerhitungan pada sistem konversi Masehi – Hijriah ini memungkinkan terjadi selisih H-1 atau H+1 dari tanggal seharusnya untuk tanggal Hijriyah