Home » #2 Catatan dari Tanah Suci 2026: Saat Haji Mengajarkan Arti Sabar yang Sesungguhnya
Materi Penyuluh Agama Wisata

#2 Catatan dari Tanah Suci 2026: Saat Haji Mengajarkan Arti Sabar yang Sesungguhnya

“Berbagi kamar, mengantre fasilitas, hingga bermalam di Mina menjadi madrasah kehidupan yang mengantarkan jemaah memahami bahwa haji mabrur lahir dari kesabaran, keikhlasan, dan akhlak mulia”.

Sampainya di hotel di Tanah Suci pada Jumat malam (15/5/2026) waktu Makkah, Pak Ies menundukkan kepala seraya mengucapkan syukur kepada Allah Swt. Perjalanan panjang dari Tanah Air akhirnya terlewati dengan lancar. Ia bersyukur karena diberi kesehatan, keselamatan, dan kembali dipertemukan dengan Tanah Suci bersama istri tercinta. Bagi dirinya, kesempatan itu bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan, melainkan anugerah yang harus disyukuri.

Memasuki kamar hotel, rasa haru bercampur bahagia memenuhi hatinya. Namun, kebahagiaan itu segera disertai kesadaran bahwa perjalanan haji yang sesungguhnya baru saja dimulai. Kamar yang semula dibayangkannya akan terasa luas dan nyaman ternyata harus ditempati bersama empat hingga lima jemaah lainnya.

BACA JUGA: https://www.bekalbaik.com/1-catatan-dari-tanah-suci-2026-belajar-sabar-tertib-dan-toleran-di-kota-makkah/

Masing-masing memiliki kebiasaan yang berbeda. Meski demikian, Pak Ies menyadari bahwa dirinya datang ke Tanah Suci bukan untuk mencari kenyamanan, melainkan untuk memenuhi panggilan Allah Swt. Dalam hati ia berbisik, “Tidak mengapa. Semua ini adalah bagian dari ibadah. Kami semua adalah tamu Allah.”

Hari-hari berikutnya menjadi madrasah kesabaran melalui berbagai hal sederhana. Penggunaan kamar mandi harus dilakukan secara bergantian, terutama pada waktu-waktu sibuk menjelang pelaksanaan ibadah. Begitu pula dengan mesin cuci dan tempat menjemur pakaian yang jumlahnya sangat terbatas.

Pada pagi dan sore hari, antrean menjadi pemandangan yang biasa. Tidak jarang para jemaah harus menunggu giliran untuk mencuci pakaian atau mencari sedikit ruang kosong untuk menjemurnya. Meski demikian, di tengah segala keterbatasan tersebut justru tumbuh suasana kebersamaan yang hangat. Setiap orang berusaha saling memahami, saling mengalah, dan saling membantu.

Ujian kesabaran juga hadir dalam kehidupan sehari-hari di dalam kamar. Ada yang ingin menyaksikan berita, ada yang lebih memilih mendengarkan ceramah agama, sementara yang lain sedang berbincang dengan keluarga melalui telepon. Ruang pribadi untuk beribadah, berkomunikasi, ataupun menerima tamu tidak selalu tersedia.

Dari situ Pak Ies belajar memandang segala sesuatu dengan cara yang berbeda. Jika selama ini kehidupan sering diwarnai keinginan untuk didahulukan dan dimengerti, maka di Tanah Suci ia belajar untuk lebih banyak memahami orang lain serta mendahulukan kepentingan sesama.

Kesabaran semakin diuji ketika memasuki puncak pelaksanaan ibadah haji dan bermukim di tenda Mina pada 8 hingga 13 Dzulhijjah 1447 Hijriah. Di tempat itulah jutaan jemaah berkumpul dalam ruang yang terbatas. Tempat tidur yang sederhana, ruang gerak yang sempit, antrean kamar mandi yang panjang, serta waktu istirahat yang tidak selalu nyaman menjadi bagian dari keseharian.

BACA JUGA: https://www.bekalbaik.com/haji-mabrur-pengertian-keutamaan-dan-tanda-tandanya-menurut-al-quran-dan-hadis-sahih/

Namun, justru di Arofah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna), Pak Ies merasakan hikmah yang begitu mendalam. Tidak ada lagi perbedaan antara orang kaya dan orang sederhana, antara pejabat dan rakyat biasa. Semua berdiri sama sebagai hamba Allah yang sedang belajar bersabar, berbagi, serta mengendalikan diri demi menyempurnakan ibadah.

Di balik perjuangannya sebagai seorang jemaah, Pak Ies juga mengemban amanah sebagai Ketua Regu (Karu) yang membawahi sepuluh jemaah. Amanah tersebut membuat perjalanan hajinya tidak hanya berfokus pada ibadah pribadi, tetapi juga pada pelayanan kepada sesama. Setiap hari ia berupaya memastikan seluruh anggota regunya tetap bersama, memperoleh hak konsumsi, mendapatkan pendampingan ketika mengalami gangguan kesehatan, serta tidak tertinggal saat berpindah menuju lokasi-lokasi pelaksanaan ibadah.

Kesibukan itu semakin terasa pada masa puncak haji. Selain memastikan seluruh anggota regunya mengikuti rangkaian ibadah dengan baik, ia juga membantu mengoordinasikan penggunaan transportasi, mengingatkan jadwal, berdiskusi mengenai pelaksanaan ibadah, hingga mendampingi anggota yang membutuhkan bantuan, termasuk ketika harus menjemput salah seorang jemaah yang berada di hotel berbeda agar dapat bergabung kembali dengan rombongan. Berbagai persoalan kecil maupun besar datang silih berganti, namun semuanya dijalani dengan penuh kesabaran.

Pak Ies menyadari bahwa amanah tersebut tidak mungkin dijalankan seorang diri. Dukungan ketua rombongan, petugas kloter, tenaga kesehatan, pembimbing ibadah, serta kepedulian sesama jemaah menjadi kekuatan yang membuat setiap persoalan dapat diatasi bersama. Kebersamaan itulah yang membuat perjalanan haji terasa lebih ringan dan penuh makna.

Setiap kali rasa lelah dan ketidaknyamanan datang, Pak Ies mengingat firman Allah Swt., “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan.” (QS. Az-Zumar: 10).

Ayat tersebut menjadi penguat hati dalam menjalani setiap ujian. Menunggu giliran menggunakan kamar mandi dan lift, berbagi kamar dengan sesama jemaah, bergantian memakai mesin cuci, mencari tempat menjemur pakaian, hingga menjalani hari-hari di Mina yang penuh keterbatasan, semuanya dapat bernilai ibadah apabila dijalani dengan ikhlas karena Allah Swt.

Dari perjalanan itu, salah satu pelajaran yang paling membekas bagi Pak Ies adalah bahwa kemabruran haji tidak hanya ditempa melalui rangkaian ibadah besar seperti tawaf, sa’i, dan wukuf.

Kemabruran juga dibentuk melalui kesabaran dalam menghadapi keterbatasan, kesediaan mengalah demi kepentingan orang lain, serta keikhlasan untuk melayani sesama tanpa mengharapkan pujian.

Di akhir perjalanan hajinya, Pak Ies menyadari bahwa haji bukan sekadar tentang mampu menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah, tetapi juga tentang bagaimana seseorang belajar menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih peduli, dan lebih siap melayani.

Jika ada satu bekal paling berharga yang dibawanya pulang dari Tanah Suci, maka bekal itu adalah keyakinan bahwa setiap kemudahan datang karena pertolongan Allah Swt., sedangkan setiap ujian merupakan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Barangkali, di situlah salah satu makna haji mabrur mulai tumbuh bukan hanya ketika berada di Tanah Suci, tetapi juga ketika nilai-nilai kesabaran, kepedulian, dan  keikhlasan terus hidup dalam kehidupan sehari-hari sepulang dari Baitullah.

About the author

IES

Add Comment

Click here to post a comment

Jadwal Sholat :


jadwal-sholat

Kalender Masehi – Hijriyah

Masehi HijriyahPerhitungan pada sistem konversi Masehi – Hijriah ini memungkinkan terjadi selisih H-1 atau H+1 dari tanggal seharusnya untuk tanggal Hijriyah