
Suasana saat thowaf Ifadah di Masjidil Haram Mekah Al Mukaromah, Ahad (31/5/2026) (FOTO: Imam Edi Siswanto)
Pendahuluan
Setiap Muslim yang menunaikan ibadah haji tentu mendambakan predikat haji mabrur. Predikat ini bukan sekadar gelar sosial yang disematkan oleh masyarakat, melainkan sebuah kemuliaan yang menunjukkan diterimanya ibadah haji di sisi Allah SWT.
Keutamaan haji mabrur begitu agung hingga Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa balasannya tidak lain adalah surga. Karena itu, memahami makna haji mabrur serta tanda-tandanya menjadi penting bagi setiap Muslim agar ibadah haji yang dilakukan tidak hanya sah secara fikih, tetapi juga diterima oleh Allah SWT.
Landasan Al-Qur’an
Allah SWT berfirman:
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَ فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ
“Musim haji itu pada bulan-bulan yang telah diketahui. Barang siapa menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berkata atau berbuat yang mengarah kepada hubungan suami istri), berbuat fasik, dan berbantah-bantahan dalam masa mengerjakan haji.” (QS. Al-Baqarah [2]: 197).
Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu karakter utama haji yang diterima adalah terjaganya jamaah dari berbagai bentuk kemaksiatan dan perilaku tercela selama menjalankan ibadah haji.
Allah SWT juga berfirman:
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 97).
Keutamaan Haji Mabrur dalam Hadis Sahih
Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:
الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
“Umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349)
Hadis ini menjadi dalil paling kuat tentang keutamaan haji mabrur. Para ulama menjelaskan bahwa penyebutan surga sebagai balasan secara khusus menunjukkan tingginya kedudukan amal tersebut di sisi Allah SWT.
Haji yang Menghapus Dosa
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Barang siapa berhaji karena Allah, lalu tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521 dan Muslim no. 1350).
Hadis ini menunjukkan bahwa haji yang dilakukan dengan ikhlas serta dijaga dari perbuatan dosa menjadi sebab diampuninya dosa-dosa yang telah lalu.
Apa yang Dimaksud dengan Haji Mabrur?
Para ulama memberikan beberapa penjelasan mengenai makna haji mabrur.
Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah SWT, dilaksanakan dengan ikhlas, sesuai tuntunan syariat, dan tidak dicampuri dosa serta kemaksiatan.
Sementara Yahya ibn Sharaf al-Nawawi dalam Syarh Sahih Muslim menyebutkan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak ternodai oleh dosa dan disertai dengan amal-amal kebaikan yang banyak.
Dengan demikian, kemabruran haji tidak hanya diukur dari terlaksananya seluruh rangkaian manasik, tetapi juga dari kualitas keikhlasan, ketakwaan, dan perubahan perilaku setelah pelaksanaannya.
Tanda-Tanda Haji Mabrur
Tidak terdapat hadis sahih yang secara khusus menyebutkan daftar rinci tanda-tanda haji mabrur. Namun para ulama menjelaskan bahwa tanda diterimanya suatu amal adalah munculnya perubahan positif dalam kehidupan pelakunya.
Di antara perkataan yang masyhur dari Al-Hasan al-Basri:
“Tanda haji mabrur adalah seseorang menjadi lebih baik setelah hajinya dibandingkan sebelum hajinya.”
Berdasarkan penjelasan para ulama, tanda-tanda haji mabrur antara lain:
1. Bertambah Taat kepada Allah
Sepulang dari tanah suci, seseorang semakin menjaga shalat, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, berdzikir, dan melaksanakan berbagai amal saleh lainnya.
2. Menjauhi Maksiat
Ia berusaha meninggalkan berbagai dosa yang dahulu pernah dilakukan, baik yang berkaitan dengan lisan, perbuatan, maupun hati.
3. Akhlaknya Menjadi Lebih Mulia
Haji yang diterima akan melahirkan pribadi yang lebih sabar, santun, jujur, rendah hati, dan mudah memaafkan.
4. Gemar Berbuat Kebaikan
Ia lebih peduli kepada sesama, mempererat silaturahmi, memperbanyak sedekah, dan membantu orang lain.
5. Istiqamah dalam Ketaatan
Perubahan yang terjadi tidak bersifat sementara, melainkan berlanjut dalam kehidupan sehari-hari hingga akhir hayatnya.
Haji Mabrur Bukan Sekadar Gelar
Dalam kehidupan sosial, seseorang yang telah berhaji sering dipanggil dengan sebutan “Pak Haji” atau “Bu Hajjah”. Namun predikat haji mabrur bukanlah status yang diberikan oleh manusia.
Hanya Allah SWT yang mengetahui apakah suatu ibadah diterima atau tidak. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak berbangga diri dengan gelar atau pengakuan manusia, melainkan terus menjaga keikhlasan dan memperbaiki amal setelah menunaikan ibadah haji.
Doa Memohon Haji Mabrur
Di antara doa yang sering dibaca oleh kaum Muslimin adalah:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ حَجًّا مَبْرُورًا وَسَعْيًا مَشْكُورًا وَذَنْبًا مَغْفُورًا
“Ya Allah, jadikanlah hajiku haji yang mabrur, sa’iku sa’i yang diterima, dan dosa-dosaku diampuni.”
Doa ini masyhur di kalangan umat Islam sebagai ungkapan harapan agar ibadah haji diterima oleh Allah SWT dan menghasilkan keberkahan dalam kehidupan.
Penutup
Haji mabrur merupakan puncak harapan setiap Muslim yang menunaikan ibadah haji. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa balasan bagi haji mabrur adalah surga. Meskipun tidak ada hadis sahih yang secara rinci menyebutkan ciri-cirinya, para ulama menjelaskan bahwa tanda paling nyata dari haji yang diterima adalah perubahan menuju ketaatan, meninggalkan maksiat, memperbaiki akhlak, dan istiqamah dalam amal saleh.
Semoga Allah SWT menerima ibadah haji seluruh kaum Muslimin, menjadikannya haji yang mabrur, sa’i yang masykur, dan dosa yang diampuni.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Referensi
Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Baqarah [2]: 197.
Al-Qur’an al-Karim, QS. Ali ‘Imran [3]: 97.
Sahih al-Bukhari, no. 1521 dan no. 1773.
Sahih Muslim, no. 1349 dan no. 1350.
Fath al-Bari karya Ibn Hajar al-Asqalani.
Syarh Sahih Muslim karya Yahya ibn Sharaf al-Nawawi.
Lathaif al-Ma’arif karya Ibn Rajab al-Hanbali.
Atsar Al-Hasan al-Basri tentang tanda diterimanya amal dan kemabruran haji.










Add Comment